google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0


Mengenal Ulos Lebih Dekat

Jenis-jenis Ulos.


koranWedding.com, JAKARTA - Mendengar kata ulos, pasti Anda langsung teringat akan kain asal Sumatera Utara yang panjangnya mencapai 2 meter dan biasa tersampir di bahu serta di dominasi warna hita, merah, putih dengan teksturnya yang kasar.

Pada zaman dahulu kala, sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar Batak, kain ulos digunakan oleh kaum pria dan wanita sebagai pakaian sehari-hari. Bila di pakai oleh kaum pria untuk menutupi bagian bawah tubuhnya disebut singkot dan disebut tali-tali atau detal bila digunakan sebagai penutup kepala.

Sementara bila kaum wanita menggunakan ulos untuk menutupi tubuh bagian bawahnya hingga ke dada disebut haen. Ulos akan disebut ampe-ampe apabila digunakan sebagai selendang dan disebut saong bila digunakan sebagai penutup kepala.

Semenjak datangnya pengaruh bangsa barat melalui para misionaris dan kolonial Belanda, penggunaan ulos dalam keseharian mulai ditinggalkan, termasuk dalam tata cara berbusana, kecuali pada acara-acara tertentu.

Pergerseran dalam cara berbusana ini bukan berarti hilangnya peran ulos dalam kehidupan masyarakat batak. Malah sebagian puak Batak, seperti Toba dan Pak-pak ulos ditempatkan dalam suatu posisi yang sangat tinggi, serta memiliki makna sprititual.

Pada dasarnya, ulos merupakan hasil peradaban masyarakat batak dalam kurun waktu tertentu. Sedikit menoleh ke belakang, orang Batak sudah mengenal ulos sejak abad ke-14 selaras masuknya dengan alat tenun tangan dari India.

Panjang ulos bisa mencapai sekitar 2 meter dan lebar 70 cm, biasanya ditenun dengan tangan oleh perempuan Batak di bawah kolong rumah. Butuh waktu berminggu-minggu hingga bulanan untuk menyelesaikan ulos, tergantung tingkat kerumitan motif.

Dalam perkembangannya, selain digunakan sebagai pakaian sehari-hari, ulos juga digunakan sebagai perantara pemberi berkat dari seseorang yang dihormati. Oleh karena itu dikalangan orang Batak dikenal dengan istilah ‘mangulosi’ alias pemberi ulos yang kerap dilakukan pada pagelaran pesta adat perkawinan orang Batak.

Dalam mangulosi, ada aturan yang tidak boleh dilanggar, yaitu hanya boleh mangulosi mereka yang dalam kerabatan berada di bawahnya. Misalnya orang tua mengulosi anak, tapi anaknya tidak boleh mengulosi orang tua. (jek)

 



google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0

website stat