google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0


Tips Bersikap Saat Hubungan Sedang Bermasalah

Ilustrasi.


koranWedding.com - Mencari pasangan bukan hal mudah, demikian pula menjaga hubungan tetap mesra sepanjang usia. Namun, bukan hal yang mustahil pula bagi masing-masing pihak dalam sebuah hubungan untuk berupaya melakukan hal-hal yang kecil tetapi berkontribusi positif bagi kelanggengan.

Adalah hal wajar bagi sebuah pasangan untuk bertengkar. Dalam pertengkaran yang sehat bisa didapat solusi masalah yang mengganjal, asalkan dihadapi dengan dewasa dan bijaksana. Kemampuan dan diperbolehkan mengeluarkan unek-unek yang menyesakkan dada dengan cara yang tepat adalah baik dan menyehatkan.

Dari pengalaman menghadapi pertengkaran-pertengkaran pun bisa dibentuk batasan dan cara terbaik masing-masing pihak dalam pasangan untuk menghadapi masalah dan menyelesaikan konflik.

Berikut ini beberapa saran cara bersikap berdasarkan penelitian untuk pasangan yang sedang mengalami masalah agar bisa menjaga hubungannya tetap langgeng:

1. Bicaralah dengan bertatap muka
Umumnya, pasangan yang bisa berkomunikasi dengan leluasa secara langsung, punya hubungan yang langgeng. Telepon genggam dan perangkat elektronik lain memang memiliki peran penting dalam komunikasi pasangan di era digital saat ini. Namun, studi di tahun 2007 yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology mengatakan, perempuan secara umum lebih bahagia bila bisa berkomunikasi secara langsung dengan pasangannya.

Menelepon, pesan singkat, maupun video-chat tidak menyumbang banyak dalam tingkat kepuasan sebuah hubungan. Jadi, siapkan waktu untuk bisa hadir dan bicara langsung dengan pasangan Anda.

2. Hindari membahas masalah hubungan serius via pesan singkat
Berkirim pesan singkat adalah cara cepat, mudah, dan murah untuk berkomunikasi dengan pasangan saat sedang terpaut jarak. Namun, pastikan Anda dan dia tidak membahas tentang masalah hubungan via pesan singkat.

Pasangan yang saling berkirim pesan singkat untuk mengungkap kalimat-kalimat tidak mengenakkan atau untuk membahas topik konfrontasional adalah pasangan yang umumnya tak bahagia. Kesimpulan ini didapat dari penelitan di tahun 2011 yang dipublikasikan di jurnal Family Relations.

3. Hentikan siklus negatif
Pertengkaran dalam sebuah hubungan biasanya akan berakhir pada siklus meminta-mundur. Maksudnya, salah satu akan cenderung bersikap kritis dan meminta (terkait isunya) dan satunya cenderung mundur serta menutup diri terkait konflik itu.

Menurut terapis hubungan Douglas Tilley dari Maryland Center for Emotional Focused Therapy, sebanyak 85 persen pihak yang memilih menutup diri dan enggan bicara saat ada konflik di pernikahan adalah pihak lelaki. Sementara perempuan, cenderung mengejar masalahnya, bahkan saat konfliknya sedang memuncak.

Disarankan untuk kedua pihak menjaga emosi tetap tenang dan membahas masalah yang sedang dihadapi hingga didapat solusi. Saat berkomunikasi, hindari keinginan untuk menunjuk kebiasaan si dia yang Anda tak sukai dengan cara yang kasar dan memprovikasi. Hal ini akan membantu menghentikan sikslus negatif yang hanya memperlama argumennya.

4. Minta maaf dan terima tanggung jawab
Meminta maaf tidak sama dengan meminta maaf sekaligus menerima tanggung jawab atas tindakan yang telah menyakiti orang lain.

Jumlah seseorang meminta maaf tidak berbanding lurus dengan kepuasan dalam hubungan. Seseorang yang puas akan hubungannya cenderung memaafkan setelah pasangannya minta maaf karena ia tahu si dia tulus dalam ucapannya, demikian dituliskan di Journal of Social and Personal Relationships dari hasil penelitian yang dilangsungkan pada tahun 2013.

Mengucapkan kata “maaf” tetap hal yang penting dilakukan bila memang salah dan tulus ingin minta pengampunan. Permintaan maaf bisa mengurangi rasa sakit yang dialami si dia. Tanpa permintaan maaf sulit untuk mencapai solusi masalah.

5. Beri ruang
Bukan hal yang salah atau buruk untuk selalu ingin dekat dengan orang terkasih, namun, setiap orang tetap butuh ruang untuk bergerak serta bernapas.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Personality & Social Psychology Bulletin pada tahun 2013 mengemukakan, bila salah satu pihak dalam hubungan selalu ingin punya waktu lebih banyak untuk dekat dengan pasangannya, maka umumnya hubungan itu sedang tidak bahagia. Sebab, keinginan untuk bisa selalu dekat si dia, namun pihak lainnya merasa sudah cukup, maka bisa menimbulkan pikiran untuk berpisah saja. Hal ini bisa mengarah ke depresi.

Penting untuk masing-masing pihak mengetahui seberapa banyak waktu dan ruang yang diharapkan pasangannya dari dirinya. Masing-masing harus mampu mengukur kesanggupan diri serta kemampuan untuk mewujudkan waktu itu. Cari jalan tengah dan komprominya. (jek)

 



google.com, pub-4370146743310366, DIRECT, f08c47fec0942fa0

website stat